MT PASILA’AN WONG BODO CINERE DEPOK GELAR ZIARAH WALISONGO, MENELUSURI JEJAK PERJUANGAN PARA WALI PENYEBAR ISLAM DI TANAH JAWA
Majelis Taklim Pasilaan Wong Bodo (PWB), Cinere, Depok, menggelar kegiatan ziarah Walisongo pada 4–8 November 2026. Rombongan dipimpin KH. Romdhoni Hamzah, Lc, dengan mengusung tema “Bukan Sekadar Rihlah Biasa, Rihlahnya Orang Beriman”, kegiatan ini menjadi perjalanan religi untuk mengenang perjuangan para wali dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa sekaligus memperkuat keimanan dan ukhuwah Islamiyah di antara para peziarah.
Kegiatan ziarah ini tidak sekadar menjadi perjalanan mengunjungi makam para wali, tetapi juga momentum untuk mengenal lebih dekat sejarah perkembangan Islam di Nusantara, meneladani perjuangan para ulama, serta mengambil hikmah dari perjalanan dakwah yang telah diwariskan oleh para pendahulu.
Dalam rangkaian perjalanan tersebut, rombongan mengunjungi sejumlah makam tokoh besar penyebar Islam di Pulau Jawa, mulai dari Cirebon, Demak, Kudus, Tuban, Lamongan, hingga Gresik. Selain makam Walisongo, rombongan juga berziarah ke makam KH. Abdul Wahab Hasbullah, salah satu tokoh pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama.
MENELUSURI JEJAK SEJARAH WALI SONGO
Rangkaian ziarah dimulai pada Rabu, 4 November 2026, dengan mengunjungi makam Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon.
Perjalanan dilanjutkan menuju Demak untuk berziarah ke makam Raden Sahid atau Sunan Kalijaga, kemudian menuju Kudus untuk mengunjungi makam Syekh Ja'far Shadiq atau Sunan Kudus.

Pada Kamis, 5 November 2026, rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam Raden Umar Said atau Sunan Muria dan Syekh Maulana Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang di Tuban.
Sementara pada Jumat, 6 November 2026, perjalanan religi dilanjutkan dengan mengunjungi sejumlah makam ulama dan tokoh penyebar Islam, yakni:
1. Makam Raden Qosim atau Sunan Drajat di Lamongan.
2. Makam Syekh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi, ayah Sunan Ampel.
3. Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.
4. Makam Ainul Yaqin atau Sunan Giri.
5. Makam Raden Ahmad Rahmatullah atau Sunan Ampel.
6. Makam KH. Abdul Wahab Hasbullah, tokoh pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama.

Sebelas tujuan ziarah tersebut menjadi bagian dari perjalanan mengenang tokoh-tokoh penting dalam sejarah penyebaran dan perkembangan Islam di tanah Jawa.
ZIARAH SEBAGAI SARANA MENAMBAH IMAN DAN ILMU
Lebih dari sekadar perjalanan wisata religi, ziarah Walisongo memiliki dimensi pendidikan sejarah, spiritualitas, dan keteladanan.
Melalui perjalanan ini, para peserta diajak memahami bahwa penyebaran Islam di Nusantara berlangsung melalui perjuangan panjang, pendekatan dakwah yang bijaksana, pendidikan, kebudayaan, serta keteladanan para ulama.
Setiap makam yang dikunjungi menyimpan kisah perjuangan dan pengabdian tokoh-tokoh Islam yang memiliki kontribusi besar dalam membangun peradaban masyarakat.
Sunan Kalijaga, misalnya, dikenal dengan pendekatan dakwah melalui seni dan budaya. Sunan Kudus memperlihatkan pentingnya keilmuan dan kearifan dalam berdakwah. Sunan Ampel dikenal melalui peran pendidikan dan pengembangan kader dakwah, sementara Sunan Giri memiliki pengaruh besar dalam pengembangan pendidikan Islam dan jaringan dakwah Nusantara.
Nilai-nilai perjuangan tersebut menjadi pelajaran penting bagi generasi sekarang agar senantiasa menjaga tradisi keilmuan, memperkuat persaudaraan, serta meneruskan semangat dakwah Islam yang damai dan penuh kebijaksanaan.
BUKAN SEKADAR RIHLAH BIASA
Melalui tema “Bukan Sekadar Rihlah Biasa, Rihlahnya Orang Beriman”, MT Pasilaan Wong Bodo (PWB) ingin menghadirkan perjalanan yang memiliki makna lebih mendalam daripada sekadar berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya.
Perjalanan ini menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi diri, memperbanyak doa, mempererat silaturahmi, serta mengingat kembali perjuangan para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam.
Ziarah juga menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia bersifat sementara. Dari makam para wali dan ulama, setiap peserta diharapkan dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya ilmu, amal saleh, keikhlasan, perjuangan, dan pengabdian kepada agama serta masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini diharapkan membawa keberkahan bagi seluruh peserta dan menjadi pengalaman spiritual yang membekas dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana pesan yang tercantum dalam publikasi kegiatan tersebut:
“Semoga perjalanan menjadi wasilah menambah iman, ilmu, dan keberkahan.”
Melalui kegiatan ziarah Walisongo ini, MT Pasilaan Wong Bodo (PWB) berharap semangat perjuangan para wali dan ulama tidak hanya dikenang melalui kunjungan ke makam, tetapi juga diwujudkan dalam perilaku, pengamalan agama, kepedulian sosial, dan kehidupan bermasyarakat.
Karena ziarah bukan hanya perjalanan mengenang mereka yang telah mendahului, tetapi juga perjalanan mengambil hikmah untuk memperbaiki diri dan menyiapkan bekal kehidupan menuju akhirat. (AK)


Agus