ZEZEN ZAENAL MUTAQIN KRITIK KEBIJAKAN PUBLIKASI ILMIAH DOSEN: JANGAN PAKSAKAN PARADIGMA STEM KE SEMUA DISIPLIN
JAKARTA — Akademisi Indonesian International Islamic University (UIII), Dr. Zezen Zaenal Mutaqin, S.J.D., mengkritik informasi mengenai kebijakan yang disebut tidak mengakui publikasi ilmiah dengan penulis tunggal sebagai persyaratan khusus kenaikan jabatan akademik dosen.
Kritik tersebut disampaikan melalui tulisan berjudul “Kolonisasi Paradigma”, yang mempertanyakan kecenderungan menyeragamkan standar publikasi ilmiah tanpa mempertimbangkan perbedaan karakteristik disiplin keilmuan.
Zezen merupakan Head of MA Program sekaligus dosen pada Faculty of Islamic Studies, UIII. Ia juga mengajar di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sejak 2011. Zezen menyelesaikan pendidikan Master of Laws di University of Melbourne dan memperoleh gelar Doctor of Juridical Science (S.J.D.) dari UCLA School of Law.
Dalam tulisannya, Zezen menilai bahwa upaya mendorong kolaborasi akademik pada dasarnya merupakan tujuan yang baik. Namun, menjadikan penulisan bersama sebagai ketentuan baku justru berpotensi mengabaikan karakteristik penelitian dan tradisi publikasi setiap disiplin ilmu.
"Nulis secara kolaboratif memang bagus. Tapi tidak selalu dan tidak mesti bagus dan benar," tulis Zezen.
Kritik Dominasi Paradigma STEM
Zezen menyoroti kecenderungan penggunaan pola publikasi bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) sebagai acuan bagi seluruh bidang keilmuan.
Menurutnya, penelitian STEM umumnya mempunyai tradisi kolaborasi yang kuat karena melibatkan kerja laboratorium, penelitian lapangan, dan penggunaan fasilitas penelitian bersama.
Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah bidang ilmu sosial, humaniora, dan hukum yang memiliki tradisi kuat dalam penulisan individual.
Zezen menilai penerapan standar kepenulisan yang seragam berpotensi mengabaikan pendekatan epistemologis dan metodologis masing-masing disiplin.
Ia menggunakan analogi seseorang yang hanya memiliki palu sehingga melihat semua persoalan sebagai paku.
Kritik tersebut sekaligus menjadi dasar penggunaan istilah "kolonisasi paradigma", yakni kecenderungan memaksakan pendekatan dari satu disiplin ilmu kepada disiplin lainnya.
Publikasi Penulis Tunggal Tetap Memiliki Nilai Akademik
Zezen menegaskan bahwa publikasi dengan penulis tunggal bukan berarti memiliki kualitas akademik lebih rendah daripada karya kolaboratif.
Dalam bidang hukum, misalnya, tulisan akademik sering bertumpu pada pengembangan argumentasi, analisis konseptual, dan interpretasi yang dibangun secara mendalam oleh seorang penulis.
Menurutnya, di sejumlah jurnal hukum Amerika Serikat dan Eropa, artikel dengan penulis tunggal merupakan praktik yang lazim.
Ia juga mencontohkan publikasi ilmiah Stella Christie berjudul Structure Mapping for Social Learning, yang dalam tulisannya disebut sebagai contoh karya individual di bidang neurosains.
Melalui contoh tersebut, Zezen ingin menunjukkan bahwa tradisi publikasi bersama dalam bidang sains sekalipun tidak menutup ruang bagi penulisan individual.
Waspadai Praktik Saling Gendong dalam Publikasi Ilmiah
Selain persoalan perbedaan tradisi akademik, Zezen mengkhawatirkan bahwa kebijakan yang terlalu menekankan penulisan bersama justru dapat mendorong praktik tidak etis dalam publikasi.
Salah satunya adalah praktik yang ia sebut sebagai "saling gendong", yakni pencantuman nama akademisi dalam artikel ilmiah tanpa kontribusi nyata terhadap penelitian atau penulisan.
Dalam ilustrasinya, empat akademisi dapat membuat kesepakatan untuk menulis artikel masing-masing, tetapi kemudian saling mencantumkan nama pada seluruh publikasi.
Menurut Zezen, praktik semacam ini dapat berkembang apabila sistem penilaian akademik lebih menekankan formalitas kepenulisan daripada kontribusi intelektual yang sebenarnya.
Ia juga mengaitkan kekhawatiran tersebut dengan sistem pengumpulan angka kredit untuk kenaikan jabatan akademik.
Meski demikian, sejauh mana praktik tersebut terjadi dan bagaimana hubungannya dengan kebijakan kenaikan jabatan dosen masih memerlukan pemeriksaan berdasarkan data.
Dorong Kebijakan Akademik yang Menghormati Keragaman Ilmu
Melalui tulisan “Kolonisasi Paradigma”, Zezen meminta agar otoritas pendidikan tinggi memperhatikan keragaman tradisi akademik sebelum menetapkan persyaratan publikasi ilmiah.
Menurut pandangan yang disampaikannya, kolaborasi seharusnya didorong berdasarkan kebutuhan penelitian, bukan dijadikan kewajiban yang berlaku tanpa mempertimbangkan karakteristik disiplin ilmu.
Kualitas karya ilmiah perlu dinilai melalui orisinalitas gagasan, ketepatan metode, kekuatan argumentasi, serta kontribusinya terhadap pengembangan pengetahuan.
Dengan demikian, publikasi yang ditulis secara individual maupun kolaboratif tetap memperoleh ruang pengakuan sesuai kualitas dan integritas akademiknya.
Kritik Zezen menjadi bagian dari perdebatan lebih luas mengenai tata kelola karier akademik dosen, kebebasan akademik, dan pentingnya kebijakan pendidikan tinggi yang mampu mengakomodasi keragaman bidang ilmu.

Agus