P4S RUMAH KAUM JAYAKARTA, RUANG BERKUMPUL, BERSILATURAHMI, DAN MENIKMATI KULINER WARGA

P4S RUMAH KAUM JAYAKARTA, RUANG BERKUMPUL, BERSILATURAHMI, DAN MENIKMATI KULINER WARGA

Sore itu, selepas Salat Asar, suasana di halaman P4S Rumah Kaum Jayakarta, RT 10 RW 03, Kelurahan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, Senin, 7 September 2026, tampak berbeda dari biasanya. 

Setiap hari, tempat tersebut lebih sering digunakan warga RW 03 untuk berkegiatan, terutama kegiatan yang berkaitan dengan lingkungan dan pertanian perkotaan. Namun, sore itu suasananya lebih ramai oleh suara ibu-ibu yang tergabung dalam Majelis Taklim Al Syifa, Musala Al Ikhlas, RT 10 RW 03.

Mereka baru saja melewati sebuah kegiatan yang cukup mengesankan. Dua hari sebelumnya, Sabtu, 5 September 2026, ibu-ibu pengajian tersebut menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman Musala Al Ikhlas.

Pertemuan sore itu sebenarnya tidak masuk dalam agenda yang direncanakan jauh-jauh hari. Ide berkumpul muncul dari obrolan ringan pada pagi harinya. Salah seorang panitia pelaksana Maulid mengusulkan agar segera direncanakan acara syukuran sekaligus pembubaran panitia.

Namun, seperti lazimnya pertemuan ibu-ibu, sebuah rencana sederhana sering kali berkembang menjadi pertemuan yang penuh cerita.

"Luar biasa, kegiatan peringatan Maulid sangat meriah, terutama tim hadrah ibu-ibu," ujar Ustadzah Mama Juned.

Kelompok hadrah Majelis Taklim Al Syifa memang menjadi salah satu perhatian dalam peringatan Maulid tersebut. Kelompok yang belum lama dibentuk itu mampu tampil dengan percaya diri dan menghidupkan suasana acara.

Apresiasi bahkan datang dari warga di luar kelompok pengajian tersebut.

"Ini pasti hadrah sudah lama dibentuk karena terlihat sudah profesional," komentar salah seorang ibu dari RT 11 yang hadir dalam pertemuan sore itu.

Penilaian tersebut bukan tanpa alasan. Sejumlah peserta yang hadir dalam peringatan Maulid menilai penampilan kelompok hadrah Al Syifa terlihat seperti kelompok yang telah lama berlatih. Lagu-lagu yang dibawakan pun mengikuti perkembangan lagu religi yang tengah dikenal masyarakat.

DARI EVALUASI KE SILATURAHMI

Sore itu, agenda awalnya sederhana: berkumpul, mengevaluasi pelaksanaan peringatan Maulid, sekaligus membicarakan rencana syukuran dan pembubaran panitia.

Tetapi suasana semakin hangat karena salah seorang panitia ternyata sedang merayakan hari lahir. Pertemuan yang semula hendak menjadi forum evaluasi berubah menjadi ruang silaturahmi. Ucapan selamat milad pun mengalir, disambut tawa dan suasana akrab.

Tidak ada pertemuan ibu-ibu tanpa kudapan.

Di atas meja, pisang goreng, tahu isi, hingga bakso menjadi teman berbincang. Kopi dan es teh manis turut menyertai sore yang perlahan beranjak menuju petang.

Di situlah P4S Rumah Kaum Jayakarta menunjukkan fungsi lainnya.

Tempat yang selama ini dikenal sebagai ruang kegiatan pertanian dan lingkungan tersebut ternyata juga dapat menjadi ruang perjumpaan warga. Halamannya yang tidak lebih luas dari lapangan tenis itu cukup untuk menampung kegiatan berbagai kelompok masyarakat.

Bukan hanya kelompok lingkungan yang memanfaatkannya. Kelompok pengajian, panitia kegiatan keagamaan, hingga komunitas warga dapat menggunakan ruang tersebut untuk berkumpul, berdiskusi, bersilaturahmi, dan menikmati makanan bersama.

P4S Rumah Kaum Jayakarta yang difasilitasi melalui Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya tidak sekadar menjadi tempat pelatihan pertanian. Ia perlahan tumbuh menjadi ruang sosial warga.

Di tempat itu, kegiatan berkebun dapat berjalan berdampingan dengan kegiatan komunitas. Pertemuan warga dapat berlangsung tanpa suasana terlalu formal. Bahkan, makan bersama menjadi bagian kecil yang membuat hubungan antarpeserta semakin dekat.

KETIKA PERTANIAN BERTEMU KULINER

Fungsi sosial tersebut semakin lengkap karena P4S Rumah Kaum Jayakarta juga memberi ruang bagi kegiatan usaha masyarakat.

Berbagai makanan yang diproduksi kelompok UMKM KTH Rumah Kaum Jayakarta tersedia untuk menemani pertemuan warga. Bakso, peyek, cistik, hingga pempek Palembang menjadi sejumlah pilihan yang dapat dinikmati.

Untuk minuman, tersedia pula menu khas yang menjadi bagian dari identitas UMKM KTH Rumah Kaum Jayakarta. Kembang telang, bir pletok, dan es teh manis menjadi pilihan yang dapat disajikan dalam berbagai kegiatan.

Dengan demikian, sebuah pertemuan sederhana dapat sekaligus menjadi kesempatan untuk menikmati hasil usaha warga.

Ada sesuatu yang menarik dari tempat semacam ini. Di satu sisi, P4S Rumah Kaum Jayakarta berbicara tentang pertanian, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Di sisi lain, tempat ini juga berbicara tentang kuliner, silaturahmi, dan ekonomi warga.

Sore 7 September itu menjadi salah satu gambaran kecilnya.

Ibu-ibu Majelis Taklim Al Syifa datang untuk membicarakan evaluasi dan rencana syukuran. Mereka pulang membawa cerita tentang Maulid, hadrah, ulang tahun, makanan, dan kebersamaan.

Sementara bagi P4S Rumah Kaum Jayakarta, pertemuan tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah ruang tidak harus selalu diisi dengan kegiatan formal.

Kadang, secangkir kopi, segelas es teh manis, sepiring pisang goreng, dan obrolan warga justru menjadi cara paling sederhana untuk merawat silaturahmi.

P4S Rumah Kaum Jayakarta pun tidak hanya menjadi tempat belajar bertani. Ia menjadi ruang tempat warga bertemu, berbagi cerita, menikmati kuliner lokal, sekaligus memperkuat kebersamaan.

Di tengah kehidupan kota yang semakin sibuk, ruang-ruang sederhana semacam itu memiliki arti tersendiri: tempat warga masih punya alasan untuk duduk bersama.