BIMTEK Arkeologi Lereng Selatan Gunung Hyang di Desa Badean Mengajak Mahasiswa Melihat Sejarah dari Sudut Pandang yang Baru

BIMTEK Arkeologi Lereng Selatan Gunung Hyang di Desa Badean mengajak 29 mahasiswa dari berbagai program studi untuk memperdalam pemahaman tentang arkeologi dari perspektif baru. Kegiatan berlangsung 21-23 Mei 2026, dengan antusiasme peserta yang tinggi, terutama karena sebagian besar adalah pemula di bidang ini. Materi dibawakan oleh Hervina Nurullita, M.A., yang menjelaskan pelestarian Objek Diduga Cagar Budaya dengan pendekatan komunikatif, mendorong mahasiswa untuk melihat nilai sejarah dalam benda-benda sehari-hari. Sesi oleh Drs. Ismail Lutfi, M.A., menyoroti arkeologi publik dan hubungan antara penelitian dan masyarakat. Diskusi aktif muncul tentang pelestarian budaya dan tanggung jawab bersama. Kegiatan ini berhasil membuka wawasan mahasiswa serta meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas sosial.

BIMTEK Arkeologi Lereng Selatan Gunung Hyang di Desa Badean Mengajak Mahasiswa Melihat Sejarah dari Sudut Pandang yang Baru

Dua puluh sembilan mahasiswa dari berbagai program studi memadati lokasi kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Arkeologi yang berlangsung pada 21–23 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi para peserta, terutama karena sebagian besar dari mereka baru pertama kali bersentuhan langsung dengan dunia arkeologi profesional. Tidak hanya memperoleh teori di ruang seminar, para mahasiswa juga mendapat kesempatan belajar langsung dari akademisi dan praktisi yang selama ini aktif dalam penelitian serta pelestarian cagar budaya.

Sejak awal kegiatan dimulai, suasana penuh antusiasme sudah terlihat di antara peserta. Mahasiswa yang berasal dari latar belakang disiplin ilmu berbeda tampak aktif mengikuti setiap sesi yang berlangsung. Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh mahasiswa sejarah, tetapi juga peserta dari berbagai bidang studi lain yang memiliki ketertarikan terhadap budaya, sejarah, dan pelestarian warisan lokal. Keberagaman latar belakang peserta justru menciptakan dinamika diskusi yang lebih luas dan menarik.

Bimtek Arkeologi ini menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan pendekatan baru dalam memahami sejarah. Selama ini, arkeologi sering dipandang sebagai ilmu yang jauh dari kehidupan sehari-hari dan hanya berkaitan dengan benda-benda kuno di museum. Namun melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami bahwa arkeologi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat dan memiliki keterkaitan erat dengan identitas budaya serta perjalanan sejarah suatu daerah.

Hari pertama kegiatan dibuka dengan materi “Pengelolaan dan Kajian Objek Cagar Budaya” yang disampaikan oleh Hervina Nurullita, M.A. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan pentingnya pelestarian Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) sebagai bagian dari warisan sejarah yang memiliki nilai penting bagi generasi masa kini maupun mendatang. Materi tersebut disampaikan dengan gaya yang ringan dan mudah dipahami, sehingga mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dapat mengikuti pembahasan dengan baik.

Alih-alih menggunakan istilah akademik yang rumit, Hervina memilih pendekatan yang lebih komunikatif dan visual. Ia menampilkan berbagai ilustrasi dari situs-situs budaya yang pernah ia teliti, lengkap dengan cerita di balik temuan-temuan tersebut. Pendekatan itu membuat peserta lebih mudah memahami bagaimana sebuah benda dapat memiliki nilai sejarah yang penting.

Para mahasiswa tampak antusias mengikuti setiap penjelasan yang disampaikan. Beberapa kali terdengar suara kagum ketika pemateri menunjukkan contoh benda-benda sederhana yang ternyata dapat dikategorikan sebagai cagar budaya. Salah satu hal yang paling menarik perhatian peserta adalah penjelasan mengenai genteng kuno dan benda-benda rumah tangga lama yang ternyata menyimpan nilai historis tertentu.


Bagi sebagian mahasiswa, penjelasan tersebut membuka cara pandang baru terhadap lingkungan sekitar mereka. Selama ini, benda-benda lama sering dianggap tidak memiliki arti penting dan hanya dipandang sebagai barang biasa. Namun melalui penjelasan Hervina, peserta mulai memahami bahwa setiap benda memiliki potensi untuk menyimpan cerita sejarah tentang kehidupan masyarakat di masa lampau.

 

Dalam sesi tersebut, Hervina mengajak peserta untuk melihat lingkungan sekitar dengan “kacamata arkeologis”. Menurutnya, arkeologi tidak selalu berkaitan dengan penemuan besar atau situs monumental. Hal-hal sederhana yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari juga dapat menjadi bagian penting dari rekonstruksi sejarah suatu masyarakat.

Pendekatan tersebut membuat suasana diskusi menjadi lebih hidup. Banyak mahasiswa mulai menghubungkan materi dengan pengalaman mereka sendiri di lingkungan tempat tinggal masing-masing. Beberapa peserta bahkan menceritakan keberadaan bangunan lama, makam kuno, hingga benda-benda peninggalan keluarga yang selama ini tidak pernah mereka sadari nilai sejarahnya.

Tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu, sesi ini juga membangun kesadaran baru di kalangan mahasiswa mengenai pentingnya menjaga warisan budaya lokal. Para peserta mulai memahami bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah atau akademisi, tetapi juga tanggung jawab bersama sebagai bagian dari masyarakat.

Memasuki sesi berikutnya, Drs. Ismail Lutfi, M.A. menyampaikan materi mengenai “Arkeologi Publik”. Dalam pemaparannya, ia mengajak mahasiswa memahami hubungan antara penelitian arkeologi dan kehidupan masyarakat secara lebih luas. Menurutnya, arkeologi tidak boleh berhenti pada penelitian akademik semata, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar situs budaya.

Dengan gaya penyampaian yang reflektif, Drs. Ismail Lutfi mempertanyakan apakah penelitian arkeologi selama ini sudah cukup berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat lokal. Pertanyaan tersebut membuat suasana ruang seminar mendadak hening. Para peserta tampak mulai memikirkan kembali bagaimana posisi ilmu pengetahuan dalam kehidupan sosial masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan situs budaya seharusnya tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai sumber edukasi, identitas budaya, bahkan potensi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Menurutnya, pelestarian budaya akan lebih kuat apabila masyarakat merasa memiliki hubungan langsung dengan keberadaan situs tersebut.

Materi mengenai arkeologi publik menjadi salah satu sesi yang paling membuka wawasan peserta. Banyak mahasiswa mengaku baru memahami bahwa arkeologi memiliki hubungan erat dengan isu sosial, pendidikan, hingga kesejahteraan masyarakat. Selama ini, sebagian besar peserta menganggap arkeologi hanya berkaitan dengan penggalian benda kuno dan penelitian sejarah semata.

Diskusi yang berlangsung setelah pemaparan materi terlihat sangat aktif. Mahasiswa mulai mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pelestarian situs budaya di daerah mereka masing-masing, tantangan pembangunan modern, hingga bagaimana generasi muda dapat terlibat dalam menjaga warisan sejarah lokal.

Kegiatan Bimtek Arkeologi ini menjadi pengalaman penting bagi para mahasiswa karena menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga reflektif dan kontekstual. Para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai arkeologi dan cagar budaya, tetapi juga diajak memahami nilai sosial dan kemanusiaan di balik pelestarian sejarah.

Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran baru di kalangan generasi muda mengenai pentingnya menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat. Bimtek Arkeologi Lereng Selatan Gunung Hyang di Desa Badean tidak hanya membuka wawasan mahasiswa terhadap dunia arkeologi, tetapi juga mengajak mereka melihat sejarah dari sudut pandang yang lebih dekat, lebih manusiawi, dan lebih relevan dengan kehidupan masa kini.

Files