Membaca Sejarah dari Desa: Jejak Panjang Badean di Lereng Argopuro
Penulis berargumen bahwa pandangan sejarah selama ini sering kali hanya berfokus pada peristiwa besar dan kekuasaan, padahal sejarah juga lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Desa, sebagai unit sosial terkecil, sebenarnya menyimpan memori kolektif dan jejak masa lalu yang sangat berharga namun sering terabaikan karena tidak tertulis secara formal. Melalui contoh Desa Badean di lereng Gunung Argopuro, Jember, artikel ini menunjukkan bahwa sejarah lokal memiliki nilai yang sama pentingnya. Wilayah ini sudah tercatat sejak masa kolonial (abad ke-19) dan memiliki kekayaan budaya mulai dari masa prasejarah (peninggalan megalitik) hingga masa klasik Hindu-Buddha. Berbagai artefak seperti arca, tembikar, dan keramik yang sering ditemukan warga membuktikan bahwa sejarah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Sayangnya, banyak peninggalan tersebut hilang atau rusak akibat minimnya kesadaran pelestarian. Oleh karena itu, penulis menekankan pentingnya mengubah cara pandang kita: sejarah tidak hanya milik buku tebal, tetapi juga tersimpan dalam benda-benda sederhana dan tradisi di desa. Membaca sejarah dari desa berarti belajar memahami jati diri bangsa yang sesungguhnya
Membaca Sejarah dari Desa: Jejak Panjang Badean di Lereng Argopuro
Foto tampak Gunung Argopuro dari desa Badean
(Dokumentasi Pribadi)
Sejarah sering kali dipahami sebagai sesuatu yang besar tentang kerajaan, kekuasaan, atau peristiwa monumental yang tercatat rapi dalam buku-buku resmi. Namun cara pandang seperti ini perlahan mulai dipertanyakan. Sejarawan Kuntowijoyo pernah mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya milik peristiwa besar, tetapi juga lahir dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam kerangka ini, desa menjadi ruang penting untuk membaca masa lalu secara lebih dekat dan lebih manusiawi.
Desa merupakan unit sosial paling mendasar yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Di sanalah berbagai pengalaman hidup tersimpan dari tradisi, kepercayaan, hingga praktik sosial yang diwariskan lintas generasi. Masyarakat desa tidak hanya menjalani sejarah, tetapi juga menyimpannya dalam bentuk fragmen-fragmen cerita yang hidup dalam ingatan kolektif. Sayangnya, fragmen-fragmen ini kerap terabaikan karena tidak selalu tercatat dalam dokumen formal.
Padahal, sejarah besar tidak selalu identik dengan ruang lingkup yang besar. Ia justru terbentuk dari kumpulan pengalaman kecil yang saling terhubung. Desa, dengan segala dinamika kehidupannya, memiliki sejarahnya sendiri yang tidak kalah penting. Bahkan, dari desa-desa inilah fondasi sejarah yang lebih luas sebenarnya dibangun.
Desa Badean, kecamatan Bangsalsari, kabupaten Jember, yang terletak di lereng selatan pegunungan Gunung Argopuro, menjadi contoh menarik bagaimana sejarah lokal menyimpan jejak panjang yang belum sepenuhnya terungkap. Jika menelusuri peta lama peninggalan kolonial Belanda, nama Badean sudah tercatat sejak abad ke-19. Dalam peta Kaart der Residentie Besoeki yang diterbitkan oleh Biro Topografi Batavia pada tahun 1887, wilayah ini disebut sebagai “Badéan”. Sementara dalam catatan lain dengan ejaan lama, istilah “Badejan” digunakan untuk merujuk kawasan yang termasuk dalam District Tanggul.
Jejak historis ini menunjukkan bahwa Badean bukanlah wilayah baru dalam lanskap sejarah. Ia telah menjadi bagian dari dinamika sosial sejak masa kolonial, bahkan kemungkinan jauh sebelum itu. Letaknya yang berada di lereng pegunungan Argopuro juga memperkaya narasi sejarahnya. Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai wilayah yang sarat makna kultural dan spiritual. Berbagai kepercayaan berkembang di masyarakat, mulai dari anggapan sebagai wilayah sakral, jalur lintasan panjang pendakian, hingga cerita tentang tokoh legendaris seperti Dewi Rengganis.
Tidak hanya itu, kawasan lereng Argopuro juga menyimpan jejak kebudayaan yang lebih tua. Tinggalan-tinggalan megalitik yang tersebar di wilayah ini menjadi bukti bahwa kawasan tersebut telah dihuni dan dimanfaatkan oleh manusia sejak masa lampau. Peneliti Belanda seperti Zollinger pada pertengahan abad ke-19 bahkan pernah melaporkan keberadaan struktur megalitik di Gunung Argopuro dan sekitarnya. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki nilai penting dalam konteks sejarah prasejarah hingga masa klasik.
Di Desa Badean sendiri, berbagai temuan benda bersejarah masih dapat dijumpai, meskipun tidak semuanya dalam kondisi utuh. Masyarakat sering menemukan benda-benda tersebut secara tidak sengaja saat beraktivitas, seperti bertani atau berkebun. Hal ini menunjukkan bahwa jejak sejarah tidak tersembunyi jauh, melainkan berada sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Catatan kolonial juga menguatkan hal tersebut. Dalam laporan inventarisasi benda-benda Hindu-Buddha oleh pemerintah Hindia-Belanda, pernah disebutkan adanya temuan patung perempuan di wilayah Badean. Patung tersebut sebelumnya berada di lahan desa, sebelum kemudian dipindahkan ke Pesanggrahan Puger. Catatan ini menjadi bukti bahwa kawasan Badean memiliki keterkaitan dengan peradaban masa klasik.
Temuan lain yang lebih baru juga menunjukkan kekayaan sejarah desa ini. Pada dekade 1980-an, masyarakat menemukan beberapa arca menyerupai ikan di kawasan perkebunan kopi, ungkap masyarakat setempat. Sayangnya, sebagian besar temuan tersebut kini sudah tidak dapat dilacak keberadaannya. Minimnya pemahaman tentang pentingnya pelestarian benda bersejarah serta praktik jual beli ilegal menyebabkan banyak artefak hilang atau rusak.
Foto artefak yang ditemukan di desa Badean
(Dokumentasi Pribadi)
Meski demikian, beberapa jejak masih tersisa hingga saat ini. Di antaranya pecahan tembikar, guci, batu berlubang di bagian tengah, batu kenong, struktur menyerupai talut, hingga batu tegak yang diduga sebagai menhir. Selain itu, ditemukan pula piring keramik bermotif naga dan bunga, serta batu pipih yang diperkirakan berasal dari masa neolitikum. Semua temuan ini menunjukkan bahwa Desa Badean memiliki lapisan sejarah yang panjang, mulai dari masa prasejarah hingga periode klasik.
Sayangnya, kekayaan sejarah ini belum sepenuhnya mendapat perhatian serius, baik dari masyarakat luas maupun pemangku kebijakan. Banyak temuan yang hilang, rusak, atau berpindah tangan tanpa dokumentasi yang memadai. Padahal, jika dikelola dengan baik, temuan-temuan tersebut tidak hanya penting bagi dunia akademik, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran dan identitas bagi masyarakat setempat.
Di sinilah pentingnya mengubah cara pandang kita terhadap sejarah. Sejarah tidak hanya milik masa lalu yang jauh dan besar, tetapi juga milik ruang-ruang kecil seperti desa. Desa Badean menunjukkan bahwa sejarah besar dapat lahir dari kumpulan fragmen yang tersimpan dalam kehidupan masyarakat. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk peristiwa besar, tetapi juga dalam benda-benda sederhana, cerita lisan, dan praktik budaya yang terus hidup.
Dengan demikian, membaca sejarah dari desa bukan hanya soal menggali masa lalu, tetapi juga tentang memahami jati diri. Desa Badean adalah salah satu bukti bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang. Ia tetap hidup, menunggu untuk dikenali, dipahami, dan dirawat.
Pertanyaannya kini sederhana: apakah kita siap melihat sejarah dari tempat yang lebih dekat dari desa, dari masyarakat, dari kehidupan sehari-hari?
Nama: Miftakhul Khoiri Hamdan Habibi (Anggota Yayasan Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya)

Lubna