BELAJAR “PERSONAL BRANDING” ALA RAJA JAWA: RAHASIA LEGITIMASI DI BALIK BABAD TANAH JAWI
Oleh: Hanif Aprian Rahmat, S.Hum.
(Mahasiswa Magister Sejarah Kebudayaan Islam
Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Kalau hari ini orang sibuk membangun personal branding lewat media sosial, konten visual, slogan politik, dan citra publik, ternyata para raja Jawa pada masa lalu sudah lebih dulu memahami pentingnya membangun narasi kekuasaan. Bedanya, mereka tidak memakai Instagram, TikTok, atau baliho kampanye. Mereka memakai sastra, mitos, silsilah, dan cerita sejarah.
Salah satu karya yang memperlihatkan kecanggihan strategi tersebut adalah Babad Tanah Jawi. Karya ini sering dipahami sebagai catatan sejarah Jawa, tetapi sebenarnya isinya tidak hanya sekadar urutan peristiwa masa lalu. Di dalamnya terdapat cara berpikir politik, strategi legitimasi, dan usaha membangun citra kekuasaan para raja Jawa, khususnya dalam tradisi Mataram.
Dengan kata lain, Babad Tanah Jawi bukan hanya “buku sejarah kuno”, melainkan juga media komunikasi politik. Melalui cerita-cerita di dalamnya, kekuasaan raja tidak hanya ditampilkan sebagai hasil perang, keturunan, atau kekuatan militer, tetapi juga sebagai sesuatu yang memiliki dasar spiritual, budaya, dan kosmis.
Pertanyaan besarnya sederhana: mengapa rakyat harus tunduk kepada raja?
Jawabannya dibangun melalui narasi yang kuat.
Silsilah Dua Jalur: Merangkul Islam dan Tradisi Jawa
Salah satu strategi menarik dalam Babad Tanah Jawi adalah penyusunan silsilah raja. Raja-raja Jawa tidak hanya digambarkan memiliki asal-usul politik, tetapi juga asal-usul spiritual yang tinggi.
Dalam narasi babad, raja-raja Mataram sering dikaitkan dengan dua jalur besar. Pertama, jalur Islam yang ditarik sampai kepada Nabi Adam. Kedua, jalur tradisional Jawa yang berhubungan dengan tokoh pewayangan, raja-raja kuno, bahkan dunia para dewa.
Strategi ini sangat cerdas. Pada satu sisi, raja ingin diterima oleh masyarakat Islam yang semakin kuat pengaruhnya di Jawa. Pada sisi lain, raja juga tetap menjaga hubungan dengan tradisi lama masyarakat Jawa yang masih akrab dengan dunia wayang, mitos, dan kosmologi Hindu-Buddha.
Dengan silsilah seperti ini, raja tampil sebagai sosok yang lengkap. Ia bukan hanya pemimpin politik, tetapi juga pewaris dunia Islam sekaligus penerus kebesaran tradisi Jawa. Inilah bentuk “merangkul semua kalangan” ala kerajaan masa lalu.
Wahyu Keprabon: Kekuasaan sebagai Takdir Kosmis
Dalam dunia politik modern, seseorang dianggap sah menjadi pemimpin jika menang pemilu, memiliki dukungan partai, atau memperoleh mandat hukum. Namun, dalam cara pandang Jawa lama, kekuasaan tidak hanya dipahami secara administratif. Kekuasaan juga dipandang sebagai sesuatu yang bersifat gaib dan kosmis.
Konsep ini dikenal dengan istilah wahyu keprabon, yaitu semacam cahaya atau mandat ilahi yang menandai seseorang pantas menjadi raja. Jika seseorang memiliki wahyu, maka ia dianggap dipilih oleh alam semesta untuk memimpin.
Melalui konsep ini, kekuasaan raja menjadi lebih dari sekadar hasil perebutan politik. Ia dipahami sebagai takdir. Raja yang berkuasa bukan hanya orang yang kuat, tetapi orang yang “ditunjuk” oleh kekuatan yang lebih tinggi.
Di sinilah Babad Tanah Jawi memainkan perannya. Cerita-cerita dalam babad membantu membangun kesan bahwa raja memiliki restu spiritual. Dengan begitu, rakyat tidak hanya melihat raja sebagai penguasa duniawi, tetapi juga sebagai sosok yang mendapat legitimasi dari langit.
Networking Gaib: Dukungan dari Langit dan Bumi
Hal lain yang menarik dalam Babad Tanah Jawi adalah munculnya hubungan antara penguasa dengan tokoh-tokoh spiritual dan mistik. Raja-raja Mataram tidak hanya dikisahkan berhubungan dengan para wali atau tokoh agama, tetapi juga dengan kekuatan mistik seperti Nyi Roro Kidul.
Dalam kacamata modern, hal ini bisa dibaca sebagai strategi membangun “jaringan simbolik”. Raja digambarkan tidak berdiri sendiri. Ia didukung oleh kekuatan agama, tradisi, alam, dan dunia gaib. Dukungan semacam ini membuat posisi raja tampak semakin kokoh.
Jika hari ini seseorang membangun kepercayaan publik melalui dukungan tokoh terkenal, testimoni, atau pengaruh media, maka pada masa lalu dukungan itu dibangun melalui cerita tentang hubungan raja dengan kekuatan spiritual. Bedanya hanya pada bentuknya. Esensinya tetap sama: membangun keyakinan bahwa seorang pemimpin memang layak dipercaya.
Mengatur Narasi Sejarah
Setiap kekuasaan membutuhkan cerita. Tidak ada kekuasaan yang berdiri hanya dengan kekuatan fisik. Ia memerlukan narasi agar terlihat wajar, sah, dan pantas diterima.
Dalam hal ini, Babad Tanah Jawi menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu ditulis secara netral. Ada bagian-bagian tertentu yang disusun, dipilih, dan diceritakan kembali sesuai kepentingan zaman. Tokoh tertentu bisa ditonjolkan, sementara tokoh lain bisa dipinggirkan. Peristiwa tertentu bisa diberi makna besar, sedangkan peristiwa lain dibuat tampak kecil.
Dengan kata lain, siapa yang menulis cerita, ia ikut menentukan cara orang memahami masa lalu. Inilah kekuatan narasi. Ia tidak hanya menceritakan sejarah, tetapi juga membentuk ingatan bersama.
Pelajaran untuk Generasi Sekarang
Lalu, apa hubungan Babad Tanah Jawi dengan kehidupan hari ini?
Jawabannya ada pada kekuatan narasi. Dulu, narasi dibangun melalui babad, mitos, silsilah, dan simbol-simbol kerajaan. Sekarang, narasi dibangun melalui media sosial, konten digital, video pendek, pidato, kampanye, dan algoritma.
Dulu, raja membangun citra sebagai pemimpin yang mendapat wahyu dan restu kosmis. Hari ini, tokoh publik membangun citra sebagai sosok yang dekat dengan rakyat, sederhana, religius, intelektual, atau tegas. Bentuknya berubah, tetapi tujuannya tetap sama: membangun kepercayaan.
Karena itu, mempelajari Babad Tanah Jawi bukan berarti kita harus percaya begitu saja pada seluruh mitos di dalamnya. Yang lebih penting adalah memahami bagaimana masyarakat Jawa masa lalu menggunakan sastra dan kebudayaan untuk membangun legitimasi politik.
Dari sana kita belajar bahwa bangsa ini memiliki tradisi literasi yang kaya. Para leluhur tidak hanya menulis cerita, tetapi juga menyusun strategi kebudayaan. Mereka memahami bahwa kekuasaan tidak cukup hanya dimiliki, tetapi juga harus dijelaskan, diyakinkan, dan diterima oleh masyarakat.
Pada akhirnya, Babad Tanah Jawi mengajarkan satu hal penting: siapa yang mampu menguasai cerita, ia memiliki peluang besar untuk menguasai kepercayaan publik. Dan dalam politik, kepercayaan sering kali jauh lebih kuat daripada sekadar kekuasaan. (Ak)

Agus